Pemanfaatan Pekarangan di Kawasan Landbouw Kolonisasi Metro

Instant Robust Hosting Services

Berita terkait Pemanfaatan Pekarangan di Kawasan Landbouw Kolonisasi Metro ini bungomedia sajikan untuk anda yang sedang mencari berita terpopuler yang kami kutip dari berbagai situs.

Anda juga bisa mencari berita terkait yang kami rangkum dalam topics Breaking News, yang kami publis pada 2022-12-09 00:03:00.

Sekilas Tentang Bungomedia.eu.org, kami adalah blog yang membahas banyak hal, dari ekonomi, bisnis, tutorial, cara bisnis online, mengulas produk dan menyediakan jasa backlink portal media berita nasional.

Semua informasi yang kami beritakan di kutip dari berbagai sumber terpercaya dan anda bisa mengunjungi situsnya yang pada akhir artikel ini.

Simak dan join di channel TelegramLokerNews” agar tidak ketinggalan berita loker terbaru Lainnya, silahkan Klik https://t.me/lokernews

Berikut ini berita dan informasi selengkapnya yang kami rangkum di bawah ini:

Pemanfaatan Pekarangan di Kawasan Landbouw Kolonisasi Metro

Pekarangan merupakan elemen penting dalam pemukiman Jawa. Tidak hanya sebagai ruang terbuka antar rumah atau tetangga, tetapi juga sebagai sarana penunjang pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatan pekarangan rumah oleh masyarakat Jawa, menjadi topik untuk mengingatkan kembali kearifan lokal masyarakat Jawa di kawasan Landbouw, kolonisasi Metro, Lampung. 

Istilah Pekarangan dalam Bahasa Jawa

Pekarangan merupakan hal yang umum dalam tradisi Jawa. Pekarangan atau kebun dalam bahasa Indonesia terlihat memiliki arti yang mirip dengan halaman belakang. Pekarangan (aslinya dari karya “karang”) adalah kawasan yang terletak di sekitar rumah. Sedangkan “kebun”, mirip kata dari dua prasasti. “kebwan” di Kamalagi dari tahun 831 dan “kbuan” di Watukara dari tahun 931. Kedua kata tersebut memiliki arti yang sama dengan “Kebun” (Subroto, 1985).

Landbouw-kolonisatie adalah program yang berfokus pada pembukaan lahan pertanian baru. Inilah alasan mengapa hutan di antara sungai Way Sekampung dan Way Seputih menjadi tempat yang cocok. Kawasan tersebut merupakan kawasan hutan tropis dataran rendah dengan kontur datar dan terdapat beberapa sungai kecil yang pada akhirnya bermuara pada dua sungai besar tersebut. 

Baca Juga:Pasar Agroceria, Inovasi DKP3 Metro Bantu Petani dan Dorong Pemulihan Ekonomi

Selama tahun 1932 hingga 1941, atas izin masyarakat setempat, ribuan keluarga Jawa telah berhasil tiba di lokasi tersebut. Mereka kemudian tinggal di 70 pemukiman berbeda (bedeng). Bedeng tersebar di beberapa wilayah antara Gunung Sugih dan Sukadana. Saat ini kawasan Bedeng berada di Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah, seluruh kecamatan di Kota Metro, dan 3 kecamatan di Lampung Timur; Pekalongan, Batanghari, Sekampung.

Tujuan utama dari program ini adalah pertanian lahan basah untuk produksi beras. Infrastruktur irigasi dibangun untuk memperbesar kemungkinan keberhasilan. Pada tahun 1935, Bendungan Argoguruh berhasil beroperasi. Bendungan ini dapat menyalurkan air dari sungai Way Sekampung ke seluruh wilayah Landbouw-kolonisatie. Untuk mempercepat pengangkutan hasil pertanian dan penjajah baru, jalan baru juga dibangun. Jalan baru sepanjang 19 kilometer dari Tegineneng ke metro menjadi akses dari Metro ke Tanjung Karang (Bandar Lampung).

Sistem Bawon

Daerah Sawah (sawah) terletak di daerah yang lebih rendah dekat pemukiman. Dan tanaman utamanya adalah padi. Hasil dari sawah cukup tinggi. Dan saat musim panen, hanya sedikit pekerja yang tersedia. Pada saat yang sama, hampir semua orang juga sibuk dengan tanaman mereka sendiri. Hal itu menyebabkan banyak padi yang tidak bisa dipanen. Bahkan, itu menjadi alasan untuk menarik orang-orang baru untuk datang. Pendatang baru menjadi buruh memanen padi. Kemudian program tersebut populer dengan sistem bawon. Bawon adalah gaji (padi) setelah pekerja memanen padi.

Permukiman pertama bagi para penjajah (bedeng/bedeng) adalah barak-barak kayu sederhana. Namun setelah pembukaan lahan berhasil, mereka membangun rumah sendiri. yang menarik adalah bagaimana para penjajah ini kemudian memanfaatkan halaman belakang mereka. Ada kesamaan di antara mereka, tentang bagaimana mereka memanfaatkan halaman belakang mereka. Mereka memanfaatkan dan mengoptimalkan pekarangan rumahnya untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

Alasan Pemanfaatan Halaman Belakang

Setidaknya ada beberapa alasan bagaimana mereka memilih dan menanam tanaman di halaman belakang mereka. Pertama, adalah untuk makanan. Kita bisa menemukan beberapa tanaman pangan alternatif (tidak termasuk beras) di halaman belakang rumah mereka. Kedua adalah alasan medis.

Tradisi pengobatan Jawa menggunakan berbagai tanaman obat. Orang Jawa selalu menggunakan ramuan tradisional (Jamu) untuk menyembuhkan dan memelihara tubuh mereka. Dan ketiga, untuk tabungan masa depan, terkait dengan tempat tinggal dan kegunaan lainnya. Biasanya tanaman yang ditanam adalah tanaman berkayu. Dan Keempat, untuk ritual baik agama maupun tradisi.

Bambu, Pisang, dan kelapa Mudah ditemukan di Pemukiman

Bambu, pisang, dan kelapa selalu mudah ditemukan di pemukiman penjajah. Desain permukimannya juga unik. Jarak rumah dari jalan raya sekitar 5-10 meter. Pisang dan Kelapa ditanam secara acak di bagian kiri, kanan dan belakang halaman belakang. Setidaknya ada satu jenis pisang di pekarangan. Kelapa juga sedikit, hanya beberapa tanaman yang tumbuh di halaman belakang. Namun, bambu selalu menjadi tanaman pembatas di bagian belakang. Mereka menanam bambu di sepanjang perbatasan dengan tetangga di belakang mereka.

Desain halaman belakang yang serupa mudah ditemukan di semua pemukiman penjajah hingga tahun 1990-an. Namun sayangnya, saat ini, wilayah tersebut memiliki populasi yang lebih padat. Bambu sebagai pembatas tanah sedikit demi sedikit mulai hilang. Namun di beberapa pemukiman baru yang lebih muda, desainnya masih ada dan dilestarikan. Pisang dan kelapa di pekarangan, serta bambu sebagai pembatas masih bisa dijumpai di kawasan Batanghari. Di beberapa area di luar Landbouw-kolonisatie pertama, desain yang merepresentasikan pemanfaatan halaman belakang.

Tanaman Lainnya

Pemanfaatan pekarangan bagi masyarakat Jawa lebih banyak untuk menunjang kebutuhan primer dan persiapan menghadapi situasi sulit. Mereka memiliki pengalaman dalam beberapa kesempatan, dengan musim kemarau yang lebih panjang. air yang terbatas menyebabkan nasi sebagai makanan (paceklik) terbatas. Untuk mencegah keterbatasan pangan selama Paceklik, juga ditanam beberapa tanaman pangan sebagai alternatif seperti singkong (Manihot esculenta), ubi jalar (Ipomea batatas), dan Talas (Colocasia esculenta).

Beberapa tanaman sayuran juga ditanam di pekarangan rumah mereka dalam skala kecil. Terutama Lada (Capsicum annum), Tomat (Lycopersicum esculentum), Katuk (Saurpus androgini), Bayam (Amaranthus spp). Sementara di beberapa keluarga juga ditanam tanaman obat seperti Kencur (Kaemferia galanga), Jahe (Zingiber officinale), Kunyit (Curcuma longa).

Muryanto Paiman (Peminat Sejarah yang Lahir di Metro dan Sempat menempuh Studi di Belanda)

Artikel ini diterjemahkan dari Backyard utilization in the Landbouw-kolonisatie area in Metro-Lampung yang terbit di https://legionbotanica.com/

Kesimpulan

Itulah informasi tentang Pemanfaatan Pekarangan di Kawasan Landbouw Kolonisasi Metro yang bisa kami berikan, semoga bermanfaat.

Berita selengkapnya bisa anda akses melalui situs berikut ini: https://metro.suara.com/read/2022/12/09/000300/pemanfaatan-pekarangan-di-kawasan-landbouw-kolonisasi-metro

Comment